Dja-dJuk

October 28, 2008

Tausiah Kesediahan

Filed under: Tausiah

Buat yang sedang dirudung masalah,
Sesungguhnya kesulitan itu adalah sebuah sunnatullah, yaitu suatu hukum yang telah ditetapkan Alah secara permanen, rela atau tidak,  siap atau tidak, mau atau tidak, kita pasti akan menghadapi kesulitan tersebut, dengan berbagai tingkatan dan bobotnya yang berbeda. tak seorangpun akan mampu lepas darinya.

    Allah sendiri telah mengatakannya di dalam firmannya "Dan pasti kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekuarangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang bersabar" (QS. Albaqarah : 155). Maka kesuitan dan masalah itu pasti akan datang kepada kita selama paru-paru ini masih menghirup udara, selama jantung ini masih berdetak dan selama darah ini masih mengalir sebagai penguji kita apakah kita akan masuk sebagai orang-orang yang dapat bersabar atau tidak.
    Secara lahiriah kita pasti membenci kesulitan dan merindukan kemudahan. Karena itulah fitrah kita. Apalagi kesulitan itu seringkali mewariskan kegetiran, penderitaan serta rintihan yang menjemukan dan menyiksa. Namun, jika saja kita mau menggunakan akal dan kesadara kita, sesungguhnya di bali kesulitan yang kerap kita pandangdari siis ngatifnya saja, tersimpan kasih sayang Allah kepada kita.
    Jika kita mau jujur, sebenarnya kesulitan itu membawa hikmah dan manfaat yang besar. Kesulitan akan menghasilkan pengetahuan kerena ia hakikatnya adalah pengalaman yang mwngajarkan kita banyak hal. Kesulitan juga akan menghasilkan kita semakin kuat dan lebih kreatif menghadapi kehidupan ini. Dan yang lebih penting, kesulitan adalah sarana bagi Allah untuk memberi balasan pahala atau menggugurkan dossa keburukan kita hamba-hambaNya.
    Bagi orang-orang yang bisa menghadapi setiap kesulitan secara dewasa, arif, dan bijaksana ia akan terilhami untuk menemukan hal yang baik dari kesulitan-kesulitannya. Namun itu bukanlah hal yang mudah. Kita butuh bekal sikap dan kiat yang ampuh dari diri kita sendiri, agar setiap kesulitan yang dapat kepada kita pergi dengan meninggalkan buah kenikmatan. Jangan sampai kta mendapat dua kerugian ; rugi karena tertimpa kesulitan dan rugi karena tidak mendapatkan apa-apa dari kesulitan tersebut.
Maka berikut ini semoga sikap dan kiat agar tiap kesulitan itu dapat menjadikan kebahagiaan bagi kita :

Pertama, Ambillah selalau sisi baik dari setiap kesulitan hidup. Kesulitan tidak selalu negatif dan ia bukan sesuatu yang selamanya harus kita benci. Ada sisi - sisi positif dimana kita dapat mengambil keuntungan dari kesulitan tersebut. Orang yang mampu memnfaatkan sisi positif itu ia akan mampu mengubah kesulitan menjadi prestasi. Sedang orang yang tidak terampil dalam mengelola dan tidak terampil melihat sisi positif dari kesulitan itu, akan mepersulit dirinya dengan kesulitan yang telah ada.

    Rasulullah SAW ketika dipaksa meninggalkan Makkah, beliau justru tidak berhenti untuk berda’wah. Beliau justru melanjutkannya di Madinah, lalu membangun pondasi islam disana. Sejarah sendiir telah mencatat bahwa banyak orang yang berhasil dan menghasilkan karya-karya besarnya di tengah kesulitan dan penderitaan yang mereka alami. Lihat saja, Imam Ahmad. Ia pernah menghadapi kesulitan yang luar biasa dengan penyiksaaan yang sangat kejam, tetapi ia mengubah siksaan itu menjadi kebaikan sehingga ia dapat kemudian menempatkan dirinya sebagai salah satu dari imam madzhab yang sangat berpengaruh.
    Imam ibnu Taimiyah pernah dipenjara. Ketika keluar ia menjadi seorang yang jauh lebih pandai dibanding sebelumnya. Imam As Sarakhsyi juga pernah menjadi tawanan, disekpa di sebuah ruang bawah tanah bekas sumur tua. Tetapi disana, ia berhasil menulis 20 jilid buku mengenai fiqih. Imam Ibnul Atsir tiba-tiba saja menjadi lumpuh, tetapi dalam kelumpuhannya ia malah berhasil menulis buku Jamiul Ushul dan An Nihayah. Imam Ibnu Qayyim Al Jauziah diusir dari baghdad, kemudian ia menjadi ahli dalam QIra’ah  Sa’abh Al Qur’an.

    Karena itu jika ditimpa musibah, lihat dan ambillah sisi baiknya. Seperti kata Muhammad Al Ghazali "Jika seseorang memberi kita segelas air jeruk yang masam, jangan dibuang tapi tambahkanlah gula secukupnya"

    Kedua, Ciptakan Selalu Kebahagiaan di Saat-Saat Kesulitan. Diantara anugerah terindah yang kita miliki adalah mempunyai hati yang tenang, tenteram dan  bahagia. Karena dalam kebahagiaan, akal menjadi terang dan sesorang akan terdorong untuk melakukan yang dinamis dan positif.

    Kadang kala, kita merasakan beratnya kesulitan itu bukan karena bobotnya. Tetapi beban itu lahir justru karena kesalahan kita dalam menyikapi kesulitan tersebut.. Kita terkadang larut dalam kesedihan yang berlebihan, atau memandang situasi sulit yang berkembang dengan kaca mata orang lain yang terlalu ideal. Dalam menyikapi realita hidup ini, kita harus bijak. Setidaknya kita harus sdar bahwa rotas kesulitan tiap-tiap orang berbeda. Jika sekarang ini kita menderita, mungkin karena saat inilah giliran kita. Bisa jadi besok adalah milik orang lain. Atau bisa jadi, penderitaan kita sebenarnya sangat ringat dibanding dengan kesulitan yang dialami orang lain. Rasulullah mengatakan "Barang siapa yang bersabar, Allah akan memberikan kekuatan yang lain untuk tetap bersabar (pada kesulitan berikutnya)."

    Ketiga, Jangan Panik, Hadapilah Kesulitan dengan Ketenangan Jiwa. Kekalahan kita menghadapi kesulitan biasanya disebabkan oleh kepanikan yang berlebihan. Akibat kepanikan itu kita pun terjebak pada tindakan atau sikap yang emosional. Padalah emosi yang sedang membuncah akan mengalahkan kesadaran diri dan melahirkan tindakan-tindakan yang tidak terkontrol yang justru akan menambah bobot kesulitan yang ada.
    Karena itu kita harus menciptakan dan mengembangkan sikap dan suasana yang tenang, sadar dan penuh kontrol diri. Biarkan kesulitan itu datang sebagaimana lazimnya kesulitan itu harus datang, namun kesadaran kita harus tetap terjaga.

    Jika setiap kesulitan yang kita hadapi dengan sikap tenang, jauh dari sikap terburu-buru, maka Insya Allah, kita akan menemukan kebaikan di balik setiap kesulitan itu. Karena ketenangan dan kehati-hatian lebih dekat kepada pertolongan Allah. Rasulullah bersabda "Sesungguhnya Allah itu tenang. Dia mencintai ketengangan, Dan dia memberi diatas ketenangan apa yang tidak Dia berikan di atas kekerasan (ketergesa-gesaan) dan tidak pula di atas segala sesuatu yang lain selain ketenangan itu."
    Ke empat, Periharah Keimanan Karena Ia Adalah Energi Hidup itu Sendiri. Orang yang celakan bukanlah orang yang kehilangan harta benda, kekuasaan dan jabatan karena kesulitan yang menimpanya. Tapi orang yang celaka adalah orang yang kehilangan keimanannya ketika kesulitan itu datang dan menimpanya.

"Barang siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang lebih baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan" (Qs An Nahl : 97)
    Ketegaran menghadapi kesulitan yang telah dibuktikan oleh merka, para sabahat yang tergolong pertama kali masuk islam. Mereka yang jumlahnya sangat terbatas itu, disiksa dengan siksaan yang luar biasa perihnya dan dipaksa meinggalkan agama barunya. Tetapi dengan keimanan yang menghunjma dalam dada mereka, mereka tetap "tersenyum" menikmati siksaan itu. Sebagian mereka mendapatkan kemenangan sebagai syahid di jalan Allah, dan sebagian lain mendapatkan kemenangan dengan pembebasan dari penyiksaan orang-orang kafir itu.

Lantas bagaimana dengan kita?? apakah kita akan menjadi orang-orang yang menang didalam kesulitan dan masalah kita itu  atau seperti yang saya katakan di awal, menjadi orang-orang yang merugi dua kali??
Maka saya katakan, janganlah terlalu bersedih dengan kesulitan yang mendera kita, janganlah terlalu terpukul, karena sesungguhnya dibalik kesulitan dan masalah itu terdapat banyak hal yang tersimpan sebagai hikmahnya, hanya saja butuh sedikit kesabaran dan ketenangan untuk melihatnya.

October 26, 2008

Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali

Filed under: Cerpen-cerpen

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

 

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu ditangannya.

Siapa yang mencuri uang itu? Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul! Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.

Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, Ayah, aku yang melakukannya!. Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.

Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!.

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam

pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya

sudah terjadi. Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku.

Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun Aku berusia 11.

 

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik… Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?

 

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku. Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!

 

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini. Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

 

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku:

Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang. Aku memegang kertas tersebut di atas tempat

tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun aku 20.

 

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).

 

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!. Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir.

Aku menanyakannya, Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?. Dia menjawab, tersenyum, Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?. Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku,

Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…

 

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu. Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20.

Aku 23 .

 

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita! Tetapi katanya, sambil tersenyum, Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..

 

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada

lukanya dan mebalut lukanya. Apakah itu sakit? Aku menanyakannya.

Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan… Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

 

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi

mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

 

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.

Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?

 

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya.

Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?

 

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku! Mengapa membicarakan masa lalu? Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

 

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu

bertanya kepadanya, Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi? Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, Kakakku. Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.

Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama

saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.

 

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku,

Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.

Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

 

Diterjemahkan dari : I cried for my brother six times

September 7, 2008

Doa Buka Puasa

Filed under: Doa-doa

Bismillah, Allahumma Laka Shumtu Wa Alla Rizqika Aftartu
(artinya: Dengan nama Allah, Ya Allah karena-Mu aku berbuka puasa dan atas rizqi dari-Mu aku berbuka). [Riwayat: Thabrani di kitabnya Mu’jam Shogir hal 189 dan Mu’jam Auwshath]

taukah doa berbuka puasa yang sering kita baca diatas? ternyata sanad hadits ini adalah lemah(dlo’if).

Mau tau alasannya:

1. Ismail bin Amr Al-Bajaly adalah seorang perawi hadist yang lemah

    Hal ini dikemukakan oleh:

    - Imam Dzahabi

       mengatakan di kitabnya Adl-Dhu’afa : Bukan hanya satu orang saja
       yang telah melemahkannya.

    - Imam Ibnu ‘Ady: Ia menceritakan hadits-hadits yang tidak boleh dituruti.

    - Imam Abu Hatim dan Daruquthni:mereka berkata bahwa hadist tersebut Lemah!

    - Ref : Lihat di Mizanul I’tidal 1/239

      Abdul Hakim bin Amir Abdat: Dia yang meriwayatkan hadits lemah bahwa imam tdk blh adzan.

2. Dawud bin Az-Zibriqaan ada di sanad hadist tersebut.

    - Muhammad Nashiruddin Al-Albani

      Berkata: Dia(Dawud bin Az-Zibriqaan) ini lebih jelek dari Ismail bin Amr Al-Bajaly.

    - Imam Abu Dawud, Abu Zur’ah dan Ibnu Hajar: Mereka berkata: "Matruk.!"

    - Imam Ibnu ‘Ady

      Umumnya yg diriwayatkan(Dawud bin Az-Zibriqaan)tdk blh diturut.[ref:lihat Mizanul I’tidal 2/7]

   - Al-Ustadz Abdul Qadir Hassan

      Al-Ustadz Abdul Qadir Hassan membawakan riwayat Thabrani ini di Risalah Puasa tapi beliau
      diam tentang derajad hadits ini.

Kalau sudah jelas dha’if, lalu harus bagaimana?

Karena do’a dalam hadits ini dlaif (lemah), maka lebih afdal kita mengambil do’a alternatif yang lebih baik isnadnya yang dapat kita munafaatkan dalam amalan sunat membaca do’a ketika berbuka puasa.

Menurut Sheikh Al-Islam Ibn Taimiyah:

"Manusia hendaklah berdo’a dengan do’a-do’a yang dibenarkan dalam syariat yaitu yang datang dari Al-Quran dan Sunnah! Karena sesungguhnya didalamnya tidak ada keraguan mengenai fadilat dan kebaikannya, dan sesungguhnya ia adalah jalan yang lurus. Ulama Islam dan Imam-Imam agama telah menyatakan do’a-do’a ini yang ada didalam syariah, dan berpaling dari do’a-do’a yang direka-reka (bid’ah), maka hendaklah kita mengikuti mereka didalam perkara itu." [Ref: Majmu’ al-Fataawa, 1/346,348]

Do’a dan puasa merupakan ibadat, dan sudah tentu bacaan-bacaan yang diketahui benar datang dari Nabi saw menjadi keutamaannya untuk diamalkan. Sudah tentu pula dibulan yang penuh berkat ini, umat Islam ingin mencapai semaksimal mungkin derajat ibadatnya kepada Allah swt. Sehingga ini termasuklah membaca do’a berbuka puasa yang terbaik yang dapat dikaitkan dengan Nabi saw seperti do’a dibawah ini:

"Umar berkata:
Nabi Rasulullah saw ketika berbuka puasa berkata:

Zahabaz Zama’u wabtallatil ‘uruuqu wathabatal Ajru Insyaallah."

Artinya:

"Telah hilang dahaga dan telah basah urat-urat dan telah tetap pahala insya Allah." [Hadith diriwayatkan oleh Abu Daud #2357, Al-Daaraquthni #25, Ibn Hajar dalam al-Talhis al-Habiir (2/202)] Al-Daaraquthni mengatakan bahawa hadith ini isnadnya Sahih.
 

 

Rujukan :
1. Mohammad bin Abdul Rahman Qasim.
    Majmu’ Fatawa Shiekh Al-Islam Ibnu Taimiyah - 1, 22, 27.Mekah : Percetakan Al-Hukumah, 1969.
2. Al-Hafiz Imam Nawawi. Al-Azkar. Beirut : Dar Al-Ma’rifah. halaman 172.
3. http://youngmuslimsindo.blogspot.com/2005/10/
    doa-berbuka-puasa.html

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main